Saya sering mendengar orang berkata: “diri sendiri aja belum baik, masak mau ngajarin orang??!!”. Ungkapan ini bagi saya seolah mengandung dua tafsir, yang pertama si empunya kalimat ini enggan untuk menyampaikan kebaikan karena ia menganggap dirinya belum mampu melakukan apa yang dikatakannya. Yang kedua, saya merasa dia menyindir saya karena mungkin saja ada banyak hal yang saya ajarkan pada orang lain sementara saya sendiri belum mampu melakukannya. Ungkapan ini dilematis bagi yang menekuni dunia seperti saya. Kami harus berbagi kebaikan, [dengan penekanan pada kata HARUS] karena begitulah panggilan dari pekerjaan kami sebagai trainer.
Sempat saya merasa sangat bersalah baik pada audiens, diri sendiri dan Allah swt ketika merenungi hal diatas. Bahkan sempat pula saya menimbang ulang keputusan saya untuk menjadi Trainer profesional. Hingga pada satu masa pasca merenungi hal tersebut lebih dalam saya memperoleh paradigma baru[mohon diingat ini paradigma saya sendiri, karena itu siapapun boleh beda]. Saya memandang bahwa perintah untuk menjadi manusia yang bertaqwa (manusia berkualitas) bagi kita adalah perintah untuk memaksimalkan potensi kesholihan (ittaqillaha mastatho’tum -bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan) yang berlepas kaitan dengan perintah menyampaikan kebenaran (waltakum minkum ummatun yad’una ilal khair… – dan hendaklah ada diantara kalian kaum yang menyeru kepada kebaikan…) sehingga kewajiban menyampaikan kebenaran tidak hanya diperintahkan kepada mereka yang sudah “baik” namun kepada semua manusia, yang baik maupun yang masih belum baik.
Dengan paradigma diatas maka menurut saya meski seorang maling sekalipun bila dia ditanya tentang bagaimana hukum mencuri maka wajib baginya mengatakan bahwa mencuri itu berdosa (ma’siat). Tidak bisa dia berdalih dengan alasan takut disebut munafik maka dengan terpaksa dia harus mengatakan bahwa mencuri itu mubah/halal. Kita yang tahu tentang teori manajemen diri harus mau mengajarkannya kepada orang lain bukan meski belum sepenuhnya kita bisa lakukan itu.
Terkadang ada teman yang mencoba memperingatkan tentang bahayanya mengajarkan sesuatu yang belum kita lakukan dengan menceritakan kisah Seorang Ulama yang diminta untuk membawakan tema keutamaan memebebaskan budak pada khutbah Jum’atnya. Namun ulama ini menunda permintaan spesial dari para budak ini hingga kurang lebih tiga pekan. Setelah pada akhirnya sang Ulama berkhutbah jum’at dengan tema tersebut pada jum’at ke sekian kalinya dan berdampak pada pembebasan budak secara besar-besaran oleh ummat Islam pada waktu itu, para budak tak sabar untuk mengetahui apakah kiranya yang menghalangi sang Ulama yang bernama Hasan Basri ini untuk menyampaikan hal tersebut. Hasan Basri kemudian menjelaskan bahwa penundaan ini dilakukannya karena ia menunggu kesempatan (rizki) untuk mepraktekkan perbuatan membebaskan budak ini terlebih dahulu sebelum menyerukannya kepada ummat Islam.
Sahabat, kisah di atas juga sangat mengisnpirasi saya untuk menjadi manusia yang mampu membuktikan kata-katanya. Namun tidak lantas menghalangi saya untuk menyampaikan kebenaran meski saya belum sempurna mengamalkan kebenaran itu. Karena upaya saya untuk menjadi sempurna dalam beramal adalah sisi yang lain dan upaya saya untuk menyampaikan kebenaran adalah amal yang berada di sisi lainnya. Apakah untuk menyampaikan keutamaan membebaskan budak Hasan Basri harus terus menerus membebaskan budak dalam hidupnya?
Sejauh kita terus berupaya untuk menjadi lebih baik, saya yakin tetap memiliki kesempatan untuk mengajak lebih banyak orang untuk “bareng-bareng” baik. Baik bareng-bareng khan enak??? Hehehe.
Bagaimana dengan Anda sahabat?
Anda perlu bantuan?
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
yukkk.. baikan.. yukk..!!!
Komentar oleh inos 13 Januari 2009 @ 18:23Assalaamu’alaikum,
Fer, beberapa orang [yg dengan pandangannya sendiri] menilai orang lain keminter, munafik, sok tau, dan banyak istilah yang terdengar negatif. Yo…terutama di posisi keprofesionalan sampeyan.
Orang-orang semacam itu, saya menyebutnya ’stage oriented’, maksude dia mengelompokkan sesuai dengan tingkatannya, mungkin dalam hal ini masalah keilmuan dan atau pengalaman. Daon orang ini bisa juga disebut sebagai manusia yang sombong [ati2, kesombongan itu kadang koyok jarum infus, masuk ke dalam urat nadi, beredar di sepanjang pembuluh darah, tanpa terasa dampak negatifnya dalam waktu dekat, bahkan cenderung membenarkan diri sendiri].
Coba diubah. Jangan ngajari, jangan minteri, karena bisa jadi orang yang kita ajak bicara itu sebenarnya lebih besar dari kita yang banyak bicara [bukane aku ngandani yo...].
Sharing…mungkin kata [atau bahkan metode] yang tepat. Soale opo…wong kadang seneng saat kue yang dia punya dibagi ke orang lain [iki pendapatku ae lo yo...]
Komentar oleh andri "wong jember" konco nemu 23 Januari 2009 @ 22:34Salam kenal…yang penting menurut saya niat baik untuk berbuat sesuatu. Mungkin dalam hal ini kita memiliki pandangan yang sama. Saya membuat blog karena ingin membagikan ilmu semasa saya kuliah dulu dengan tujuan dasar mencerdaskan bangsa (versi saya tentunya yah…hehehe). Seorang guru-pun belum tentu yang paling pintar tpi karena guru maka terciptalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.
Komentar oleh faizal 25 Januari 2009 @ 04:19salam kenal