berbagi keindahan berbagi


Bersyukur Bisa Berbagi
20 April 2009, 16:06
Diarsipkan di bawah: Lintasan Pikir, sembarang catatan

pray3Bagaimana saya tidak akan bersyukur yang berlipat-lipat ketika pada Sabtu, 18 April 2009 kemarin saya punya kesempatan yang begitu langka. Meski ini kesempatan untuk yang kedua kalinya, namun tetap saja rasanya tetap mendebarkan. Pada kesempatan pertama saya mengalaminya saja, untuk beberapa hari selanjutnya saya seperti mengalami shock realitas, perasaan seperti tidak percaya pada kenyataan yang baru saya alami. Saya terus mencoba-coba untuk meyakinkan diri bahwa itu riil, nyata adanya meski saya tak mampu menerima logika kenapa mereka benar-benar ada. Lantas saya menjadi gelagapan untuk menyalahkan berbagai pihak, namun toh kenyataannya persoalan mereka begitu kompleks dan terlalu rumit untuk diurai ujung pangkalnya.

Kawan, saya seolah tak sanggup menerima realitas ini. Mereka nampak begitu lugu, natural dan tak berdaya. Kenapa ada yang tega untuk merekayasa keberadaan mereka, teRlebih menyuburkan keberadaannya. Bahkan yang tak sanggup saya yakini adalah ada di antara mereka yang harus terus mengukuhkan diri menerima kenyataan status dirinya hingga usia senja menjelang gelap gulita.

Jum’at, 17 April 2009 pukul 19.00 ada SMS masuk, seorang kawan dari sebuah provider pelatihan meminta saya untuk memimpin Outbound Program di Kebun Teh Wonosari, besoknya. Sejenak saya diskusi dengan istri mengenai agenda kami besok dan akhirnya diputuskan bahwa waktu saya luang meski malamnya saya harus antar istri untuk bertemu dengan kelompok tani binaanya di Kromengan [+ 20Km dari rumah]. Meski biasanya saya nggak begitu suka dihubungi mendadak begini, entah malam itu saya langsung merespon SMS itu dan meng-iya-kan. Pada SMS berikutnya sekaligus saya bertanya siapa kira-kira pesertanya dan apa peran saya. SMS jawabannya begini “Antum (baca: kamu) yg pimpin. Sy support aja. Psrta para PSK. diawal icebreaking spt biasa ……….. Tp itu bisa diatur, yg pnting goalx spy mrk bs mentas dr aktivitas saat ini”. Kontan saya tersenyum kecut membaca siapa gerangan yang akan menjadi peserta outbound saya. Hehehe bayangkan saja bisanya saya memimpin Outbound untuk pelajar, mahasiswa atau karyawan dan profesional, ndilalah sekarang saya diminta memimpin Outbound untuk Pekerja Seks Komersial. MasyaAllah…………

Kawan bila di awal saya tulis bahwa saya betul-betul bersyukur, itu karena pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk bisa berbagi wawasan dan motivasi bahwa bila kita mau kita dapat memilih pilihan hidup yang lebih baik. Itu saja, dan alhamdulillah saya bisa lakukan itu. Soal berdampak atau tidak itu urusan Allah swt, tugas dan kewajiban saya sudah selesai. Buat mbak-mbak yang ketemu saya di wonosari kemarin! “ayo segera temukan jalan yang lebih baik, seperti hikmah dari game terakhir, menemukan jalan kebenaran itu memang sulit namun bukan berarti tak mungkin karena Allah pasti telah sediakan track terbaik bagi kita bila kita mau meraihnya!”. Alhamdulillah yang berikutnya karena di saat-saat terakhir program itu ada seorang peserta sambil berlinang air mata yang berpamitan kepada semua teman-temanya karena hari ini [Senin, 20 April 2009] dia akan meninggalkan lokalisasi dan akan kembali ke kampung halamannya….. Alhamdulillahhh…………

Kawan, sebenarnya saya ingin tulis pernak-pernik program ini dan berbagai cerita tentang mereka, tapi khawatir kepanjangan. Semoga kesempatan posting berikutnya saya ada kesempatan untuk tulis.

Kawan, kita harus senantiasa bersyukur bukan?



Baik Mengajak Orang Menjadi Baik
13 Januari 2009, 17:46
Diarsipkan di bawah: Lintasan Pikir, idea, sembarang catatan

2621953190_da0d217441Saya sering mendengar orang berkata: “diri sendiri aja belum baik, masak mau ngajarin orang??!!”. Ungkapan ini bagi saya seolah mengandung dua tafsir, yang pertama si empunya kalimat ini enggan untuk menyampaikan kebaikan karena ia menganggap dirinya belum mampu melakukan apa yang dikatakannya. Yang kedua, saya merasa dia menyindir saya karena mungkin saja ada banyak hal yang saya ajarkan pada orang lain sementara saya sendiri belum mampu melakukannya. Ungkapan ini dilematis bagi yang menekuni dunia seperti saya. Kami harus berbagi kebaikan, [dengan penekanan pada kata HARUS] karena begitulah panggilan dari pekerjaan kami sebagai trainer.

Sempat saya merasa sangat bersalah baik pada audiens, diri sendiri dan Allah swt ketika merenungi hal diatas. Bahkan sempat pula saya menimbang ulang keputusan saya untuk menjadi Trainer profesional. Hingga pada satu masa pasca merenungi hal tersebut lebih dalam saya memperoleh paradigma baru[mohon diingat ini paradigma saya sendiri, karena itu siapapun boleh beda]. Saya memandang bahwa perintah untuk menjadi manusia yang bertaqwa (manusia berkualitas) bagi kita adalah perintah untuk memaksimalkan potensi kesholihan (ittaqillaha mastatho’tum -bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan) yang berlepas kaitan dengan perintah menyampaikan kebenaran (waltakum minkum ummatun yad’una ilal khair… – dan hendaklah ada diantara kalian kaum yang menyeru kepada kebaikan…) sehingga kewajiban menyampaikan kebenaran tidak hanya diperintahkan kepada mereka yang sudah “baik” namun kepada semua manusia, yang baik maupun yang masih belum baik.

Dengan paradigma diatas maka menurut saya meski seorang maling sekalipun bila dia ditanya tentang bagaimana hukum mencuri maka wajib baginya mengatakan bahwa mencuri itu berdosa (ma’siat). Tidak bisa dia berdalih dengan alasan takut disebut munafik maka dengan terpaksa dia harus mengatakan bahwa mencuri itu mubah/halal. Kita yang tahu tentang teori manajemen diri harus mau mengajarkannya kepada orang lain bukan meski belum sepenuhnya kita bisa lakukan itu.

Terkadang ada teman yang mencoba memperingatkan tentang bahayanya mengajarkan sesuatu yang belum kita lakukan dengan menceritakan kisah Seorang Ulama yang diminta untuk membawakan tema keutamaan memebebaskan budak pada khutbah Jum’atnya. Namun ulama ini menunda permintaan spesial dari para budak ini hingga kurang lebih tiga pekan. Setelah pada akhirnya sang Ulama berkhutbah jum’at dengan tema tersebut pada jum’at ke sekian kalinya dan berdampak pada pembebasan budak secara besar-besaran oleh ummat Islam pada waktu itu, para budak tak sabar untuk mengetahui apakah kiranya yang menghalangi sang Ulama yang bernama Hasan Basri ini untuk menyampaikan hal tersebut. Hasan Basri kemudian menjelaskan bahwa penundaan ini dilakukannya karena ia menunggu kesempatan (rizki) untuk mepraktekkan perbuatan membebaskan budak ini terlebih dahulu sebelum menyerukannya kepada ummat Islam.

Sahabat, kisah di atas juga sangat mengisnpirasi saya untuk menjadi manusia yang mampu membuktikan kata-katanya. Namun tidak lantas menghalangi saya untuk menyampaikan kebenaran meski saya belum sempurna mengamalkan kebenaran itu. Karena upaya saya untuk menjadi sempurna dalam beramal adalah sisi yang lain dan upaya saya untuk menyampaikan kebenaran adalah amal yang berada di sisi lainnya. Apakah untuk menyampaikan keutamaan membebaskan budak Hasan Basri harus terus menerus membebaskan budak dalam hidupnya?

Sejauh kita terus berupaya untuk menjadi lebih baik, saya yakin tetap memiliki kesempatan untuk mengajak lebih banyak orang untuk “bareng-bareng” baik. Baik bareng-bareng khan enak??? Hehehe.

Bagaimana dengan Anda sahabat?

Anda perlu bantuan?



Langkah Kecil
21 Agustus 2008, 08:07
Diarsipkan di bawah: idea, sembarang catatan | Tag: , , , ,

Memulai sesuatu bagi saya ibarat separuh perjalanan untuk menyelesaikan sesuatu itu. Hidup mengajarkan kepada saya bahwa tersedia jutaan pintu kemungkinan dibalik setiap awal. Jika anda mengira bahwa diantara jutaan pintu kemungkinan itu ada kegagalan dan kepahitan, anda benar! Hanya saja saya selalu memaknai gagal itu sebagai sebuah peringatan, bukanlah batas akhir. Layaknya setiap peringatan, yang dibuat atau disampaikan untuk “membantu” seseorang agar lebih berhati-hati dan pada akhirnya agar ia selamat, maka bagi saya kegagalan adalah sebuah alat bantu keselamatan. Bila gagal adalah alat bantu keselamatan maka bagi saya ia adalah Anugerah. [logika ini mengutip ajaran dari Mas Ikhwan Sopa]. So, dibalik setiap awal terdapat jutaan pintu kemungkinan yang keseluruhannya adalah anugerah [dari Allah tentu saja].

Sahabat, entah mengapa saya selalu merasa bahagia bila bisa berbagi. Hingga pada satu kesempatan ada tulisan yang membangunkan kesadaran saya, bahwa terdapat peluang besar untuk saya dapat berbagi melalui media ini [meski sejak dahulu belief ini tertanam tapi sejujurnya tulisan ini lebih memberi makna bagi saya]. Begini tulisannya:

Hai.., blog ini punya konsep sederhana dan bermanfaat, jika anda
punya konsep yang sama, mari kita bikin jaringan yang bermanfaat.
Saya yakin imajinasi sederhana anda akan bermanfaat untuk orang
lain, walaupun itu hanya berbentuk sebuah kalimat. Copy paste
syntax ini pada text widgets sidebar blog anda. Jangan lupa konfirmasi
ulang agar saya bisa segera mencantumkan link blog anda pada
blogroll Keep simple & useful blog di Cantigi. terimakasih…
thumbupsmile

Saya menemukan tulisan ini dari blognya Kang Deni Pradana.

Akhirnya saya memutuskan untuk Bloging lagi dan membuat blog baru karena blog lama saya terlalu meninggalkan kesan kurang nyaman untuk ngurusnya [mungkin karena sudah dua tahunan ga pernah saya urus].

Kembali mengenai memulai, inilah awal saya yang saya yakini akan segera diikuti dengan jutaan pintu peluang anugerah. Anda butuh bantuan?